Arsip

Archive for the ‘Bahan Ajar Seni Musik’ Category

Partitur “Gloria In Ekcelcis deo”

Klik gambar diatas untuk “mendownload” partitur!

Partitur Lagu “Sentuh Hatiku”

Untuk mendownload partitur klik gambar diatas

Partitur Paduan Suara

1.7 Tangga nada (scale)

20 November 2009 2 komentar

Lagu di atas salah satu contoh penggunaan tangga nada yangterdiri dari 5 nada (pentatonik) yaitu:


1.7.1 Tangga Nada Mayor (Major Scale)

Tangga Nada C mayor (Natural)

1.7.2Tangga Nada G mayor (1#)

Untuk membentuk tangga nada baru, tetrachord kedua menjadi tetrachord pertama kemudian dilanjutkan nada berikutnya dengan

iterval jarak seperti yang telah ditentukan.

G A B C menjadi tetrachord pertama kemudian dilanjutkan nada berikutnya yaitu D E F G. Nada E ke F berjarak ½ padahal jarak nada ke 6 ke 7 adalah 1 sehingga nada ke 7 harus dinaikkan ½ supaya jarak menjadi 1. Sedangkan jarak F ke G yang semula 1 setelah F menjadi Fis jaraknya menjadi ½., seperti notasi diatas. Karena dalam tangga nada G mayor terdapat 1 nada yang diberikan tanda kres yaitu nada F, maka tangga nada ini juga disebut tangga nada 1 kres.

1.7.3 Tangga Nada D mayor (2#)

Untuk membentuk tangga nada berikutnya, prinsipnya sama dengan pembuatan tangga nada diatas. Tetrachord ke dua dari tangga nada G mayor yaitu: D E Fis G menjadi tetrachord pertama.

1.7.4 Tangga Nada A mayor (3#)

1.7.5 Tangga Nada E mayor (4#)

1.7.6 Tangga Nada B mayor (5#)

1.7.7 Tangga Nada Fis mayor (6#)

1.7.8 Tangga Nada Cis mayor (7#)

1.7.9 Tangga nada F mayor (1 b)

1.7.10 Tangga nada Bes mayor (2 b)

1.7.11 Tangga nada Es mayor (3 b)

1.7.12 Tangga nada As mayor (4 b)

1.7.13 Tangga nada Des mayor (5 b)

1.7.14 Tangga nada Ges mayor (6 b)

1.7.15 Tangga nada Ces mayor (7 b)

Tangga nada di atas secara teoretis masih lebih banyak lagi macamnya, tetapi apabila kita cermati sebenarnya implementasinya dalam praktek bermain musik terdapat kesamaan. Misalnya: Tangga nada Cis enharmonik dengan tangga nada Des Tangga nada Fis enharmonik dengan tangga nada Ges Tangga nada Ces enharmonik dengan tangga nada B

1.7.16 Tangga nada F mayor (1 b)

1.6 Tanda Aksidental

Tanda aksidental adalah tanda yang dapat merubah ketinggian nada dalam satu birama. Tanda tersebut sudah tidak berlaku lagi pada birama berikutnya.

1.6.1 # (kres/sharp)

Untuk dapat memperjelas materi ini sebaiknya lagu tersebut dinyanyikan dan dianalisis terutama pada baris ke dua birama ke dua yang terdapat tanda kres (#). Nada tersebut semula bernada d setelah diberi tanda  #  menjadi dis atau d sharp. Akan sangat berbeda bunyinya apabila lagu tersebut tidak diberikan tanda #.

Dalam istilah internasinal, nada yang di-beri tanda ini namanya ditambah sharp, misalnya d menjadi d sharp.

1.6.2 (mol/flat)

Untuk lebih memahami tanda aksidental ini sebaiknya lagu bagian pertama lagu di atas dinyanyikan dengan intonasi yang tepat. Pada birama ke tiga, empat, dan enam terdapat tanda mol yang berfungsi untuk menurunkan setengah nada. Pada birama ke tiga dan ke em-pat, nada b setelah diberi tanda mol menjadi bes.

Sedangkan pada birama ke enam nada a berubah menjadi as. Setiap nada yang mendapat tanda mol namanya ditambah es, kecuali nada a ditambah s. Sama halnya dengan tanda kres, tanda mol juga hanya berlaku untuk satu birama. Dalam istilah standar internasional, nada yang diberi tanda mol/flat namanya ditambah flat, misalnya b menjadi b flat.

1.6.3 (pugar/natural)

Adalah tanda untuk mengembalikan nada yang semula mendapatkan tanda kres atau mol dalam satu birama.

Notasi 20, Petikan lagu Sepasang Mata Bola

Birama pertama lagu di atas terdapat dua tanda aksidental yaitu tanda kres dan pugar. Nada g pada ketukan ke tiga diberi tanda kres menjadi gis/g sharp dan pada ketukan ke empat diberikan tanda pugar kembali menjadi nada g. Untuk lebih memahami fungsi tanda aksidental dan penerapannya dalam suatu lagu sebaiknya dinyanyikan dan dirasakan perbedaan nadanya. Tanda pugar juga hanya berlaku dalam satu birama, sama dengan tanda aksidental yang lain.

Lagu-lagu lain yang terdapat tanda pugar misalnya:

1. Kebyar-kebyar (Gombloh)

2. Chindai (Cici Paramida)

1.5 Tanda Sukat (Time Signature)

1.5.1  Tanda Sukat 4/4

Dalam lagu-lagu (populer), tanda sukat yang sering kita jumpai adalah satu tanda sukat yakni 4/4. Irama Rock’n Roll, Bossanova, Cha  Cha, Rumba, Samba, Jive, dan sebagainya adalah  contoh irama yang ber-tanda sukat 4/4.  Marilah kita amati lagu dibawah ini dan kita pelajari makna dari suatu tanda sukat:

Notasi 8, Petikan lagu Kebyar-Kebyar

Lagu di atas merupakan contoh lagu yang bertanda sukat 4/4.  Untuk memahaminya  lagu tersebut   dinyanyikan, kemudian dianalisis mengapa lagunya bertanda birama 4/4.  Kita amati  notasi pada birama pertama.

Notasi 9, not seperempat

Dalam materi bentuk dan nilai not dijelaskan bahwa not seperti  notasi di atas merupakan not seperempat. Pada birama pertama  lagu Kebyar Kebyar terdapat empat not seperempat, apabila  dinotasikan adalah:    + + +  = 4/4. Lagu yang bertanda birama 4/4 apabila dijumlah dalam satu birama memiliki empat not seperempat. Hal itu bukan berarti dalam setiap  birama dalam satu lagu hanya terdapt not sepempat saja tetapi bisa terdiri dari not seperdelapan, seperenambelas, setengah, atau not penuh. Mari kita cermati lagi lagu diatas pada  birama ke dua yaitu:

Not pada birama tersebut terdiri dari dua macam jenis not yaitu not seperdelapan dan not setengah.  Secara matematis sama dengan:  ?+ ?+ ? + ? = ¼ + ¼

Dengan demikian pada birama ke dua apabila dianalisis juga  terdapat empat not seperempat.  Pada birama selan-jutnya meskipun bentuk dan nilai notnya berbeda dengan birama pertama dan ke dua tetapi apabila dianalisis pasti terdapat  empat not perempatan. Birama terakhir   terdapat not penuh/ utuh.

Dalam materi sebelumnya dijelaskan bahwa:

Contoh lagu yang bertanda sukat 4/4 misalnya:

1.  Januari (Glen F.)

2.  Jujur (Raja)

3.  Kenangan Terindah (Samson)

4.  Andai Ku tahu (Ungu)

5.  TTM (Ratu)

6.  Take Me Home Country Road (John Denver)

7.  Biru (Vina P.)

8.  Kebyar-kebyar (Gombloh)

9.  Kekasih Gelapku (Ungu)

10.  Andaikan Kau Datang (Koes Plus)

Dalam tanda sukat 4/4 terdapat istilah setengah birama (half bar), misalnya pada lagu dibawah ini:

Notasi 14, Lagu Masih (Ada Band)

Pada baris ke lima birama ke tiga terdapat tanda 2/4, berarti pada birama tersebut hanya terdapat 2 ketukan atau setengah birama. Cermati juga  pada baris ke enam birama ke lima terdapat tanda 2/4 seprti baris sebe-lumnya. Untuk memahami alangkah baiknya kalau kita menyanyikan lagu tersebut dan merasakan aksen pada birama/syair yang bertanda 2/4.

Lagu lain yang terdapat half bar misalnya:

1.  How Can I Tell Her (Lobo)

2.  The Greatest Love of All (Whiteney Hoston)

3.  Song Song Blue

4.  Kupu Kupu Malam (Titik Puspa)

1.5.2 Tanda Sukat 3/4

Tanda birama ini dalam musik populer dikenal dengan irama Waltz, tetapi lagu-lagu populer pada saat ini jarang kita jumpai tanda birama ini.

Notasi 15, Petikan lagu Belaian sayang

Lagu di atas termasuk contoh lagu era 60-an tetapi pernah direalease penyayi pop Ruth Sahanaya. Untuk memahami tanda birama ini alangkah baiknya kalau kita dapat menyanyikan dan menganalisis mengapa dibe-rikan tanda sukat ¾. Pada birama pertama terdiri dari not seperempat dan titik, dan not seperdelapan.

Notasi 16, Notasi dan tanda titik

Apabila dianalisis sebagai berikut :

+ ? + ? + ? = (1/4 + 1/8) + 1/8 + 1/8 + 1/8 = ¼ + ¼ + ¼

Jadi birama pertama terdapat tiga buah not seperempat yaitu:

+ + = ¼ + ¼ + ¼ = 3/4

Pada birama ke dua terdapat not seperempat dan not setengah

+ = + + = ¼ + ¼ + ¼ = ¾.

Notasi 17, ¾

 

Contoh lagu lain dalam tana sukat ini adalah:

1. Restumu Kunantikan (S. Tito dan Jul Ch.)

2. Melati dari Jayagiri (Iwan Abdurachman/Bimbo)

3. Bunga Mawar (Teti Kadi)

4. Delilah ( Tom Jones)

5. Sapu Tangan Dari Bandung Selatan (Lagu Perjuangan)

6. Mother How Are You Today

Pada dasarnya dua tanda sukat di atas adalah tanda sukat yang paling sering kita jumpai dalam lagu. Dalam teori musik kita kenal penggolongan tana sukat menjadi dua yaitu tanda sukat sederhana dan tanda sukat susun. Tanda sukat sederhana misalnya 2/4, ¾, 4/4. Sedangkan tanda sukat susun adalah tanda sukat yang merupakan su-sunan dari dua atau lebih tanda sukat, misalnya 6/8 taerdiri dari dua tanda sukat 3/8, tanda sukat 9/8 merupakan susunan dari tiga tanda sukat 3/8, dan lain-lain. Tanda sukat sebenarnya lebih menitikberatkan pada teknik penulisan. Misalnya lagu yang bertanda sukat ¾ sebenarnya bisa saja ditulis dengan tanda sukat 3/8, 4/4 ditulis dengan tanda sukat 4/8.

1.4 Bentuk tanda diam

20 November 2009 4 komentar

Notasi 7 , nilai not dan tanda istirahat

1.3 Bentuk dan nilai not

20 November 2009 2 komentar

1.2 Tanda Kunci (Key Signature)

1.2.1  Kunci G

Notasi garis paranada diatas terdapat dua buah tanda kunci yaitu kunci G dan kunci F.  Notasi diatas menunjukkan bahwa kunci Gdan kunci F saling berhubungan dan menunjukkan bahwa nada-nada dalam kunci F lebih rendah daripada nada-nada yang terdapat dalam kunci G.  Nama-nama nadanya disusun secara berurutan untuk memperjelas pengnotasian posisi nada dalam garis paranada.

Notasi 2, kunci G dan nada G

Kunci G berfungsi untuk menentukan nada  G yang terdapat pada garis ke dua dari bawah atau garis ke empat dari atas.

1.2.2  Kunci F

Notasi 3, Kunci F dan  nada F

Tanda kunci tersebut berfungsi untuk menentukan nada  F  yang terdapat  pada garis ke empat dari bawah dan garis ke dua dari atas. Nama-nama nada berdasarkan frekwensinya adalah sebagai berikut:

Notasi  4, letak nada

1.2.3  Kunci C

Notasi 5, Kunci C dan nada C

Tanda kunci C terdapat 5 (lima) macam yang dibedakan dari letak tanda kuncinya pada garis paranada. Nada yang terletak di depan tengah notasi tersebut aalah c1, nada berikutnya menyesuaiakan  sesuai dengan posisi/letak nada yang akan berpengaruh pada tinggi dan rendah nada.  Karena letaknya yang dapat berpindah tempat, kunci ini juga sering di-sebut  movable clef.   Tanda kunci ini biasanya hanya digunakan untuk penulisan instrumen biola alto dan cello.


 

Notasi 3, Kunci F dan  nada F

Tanda kunci tersebut berfungsi untuk menentukan nada  F  yang terdapat  pada garis ke empat dari bawah dan garis ke dua dari atas. Nama-nama nada berdasarkan frekwensinya adalah sebagai berikut:

1.1 Garis paranada

20 November 2009 1 komentar

Notasi 1, garis paranada

Garis tersebut digunakan untuk penulisan nada dan ritme. Perbedaanya, untuk penulisan diperlukan tanda kunci (clef) untuk menen-tukan nama nada yang terdapat pada garis paranada, sedangkan untuk penulian ritme tidak diperlukan tanda kunci karena notasi yang dimainkan tidak  bernada.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.