Wellcome

9 Februari 2010 1 komentar

Categories: MAKALAH Tag:,

Komunikasi Massa

Categories: MAKALAH

Partitur “Gloria In Ekcelcis deo”

Klik gambar diatas untuk “mendownload” partitur!

Partitur Lagu “Sentuh Hatiku”

Untuk mendownload partitur klik gambar diatas

Partitur Paduan Suara

Pengertian Musik

5 Desember 2009 2 komentar

Musik pada hakikatnya adalah bagian dari seni yang menggunakan bunyi sebagai media penciptaannya. Walaupun dari waktu ke waktu beraneka ragam bunyi, seperti klakson maupun mesin sepeda motor dan mobil, handphone, radio, televisi, tape recorder, dan sebagainya senantiasa mengerumuni kita, tidak semuanya dapat dianggap sebagai musik karena sebuah karya musik harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat tersebut merupakan suatu system yang ditopang oleh berbagai komponen seperti melodi, harmoni, ritme, timbre (warna suara), tempo, dinamika, dan bentuk.

Kosasih (1982:1) berpendapat bahwa: Musik merupakan tempat dimana manusia dapat mencurahkan perasaan hati, tempat melukiskan getaran jiwa khayal yang timbul dalam pikiran yang mana tak dapat dicetuskan dengan perantaraan kata-kata, perbuatan atau dengan perantaraaan salah satu bidang seni lain. Hal tersebut diatas sesuai dengan Soeharto (1992:86) mengatakan bahwa: Musik adalah pengungkapan gagasan melalui bunyi, yang unsur dasarnya berupa melodi, irama, dan harmoni, dengan unsur pendukung berupa bentuk gagasan, sifat, dan warna bunyi. Namun dalam penyajiannnya, seiring dengan unsur–unsur lain, seperti bahasa, gerak, ataupun warna.

Seni atau berkesenian pada dasarnya adalah hasil rekayasa (ciptaaan) manusia. Namun, rasa seni bukanlah hasil rekayasa. Rasa itu ada dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari diri setiap manusia. Manusia bukan hanya mahkluk yang berpikir (rasional), melainkan mahkluk spiritual yang memiliki sisi-sisi kejiawaan atau kesadaran seperti berperasaan, mencintai keindahan, menginginkan keharmonisan dengan alam, sesama, dan Tuhan. Perwujudan atau ekspresi sisi manusia ini antara lain dituangkan dalam bentuk-bentuk tertentu, misalnya dalam bentuk olah kata, seperti menyanyi dan berpuisi; dalam bentuk olah gerak atau tarian, lukisan, pahatan dan sebagainya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kita sebagai manusia pasti memiliki rasa seni. Hanya kadar dan bidang yang diminati bisa berbeda-beda. Dalam ensiklopedia Encarta, seni (art) diartikan sebagai hasil dari daya kreativitas manusia yang dibentuk untuk menyampaikan ide, perasaan, dan kebutuhan-kebutuhan visual manusia. Atau dengan kata lain seni merupakan ekspresi jiwa, ide, emosi, dan perasaan manusia. Seni terwujud melalui ketrampilan atau daya kreativitas manusia dalam bentuk karya-karya yang bersifat indah (estetis) dan simbolis. Pada umumnya orang membagi seni atau kesenian itu atas empat cabang yaitu seni musik, seni tari, seni teater (drama), dan seni rupa. Biasanya, keempat cabang seni ini dibedakan berdasarkan unsur media yang dipakai. Pada seni musik, media yang dipakai dan digarap adalah suara (nada). Pada seni tari, media yang dipakai adalah gerak. Pada seni teater, media yang dipakai adalah acting. Pada seni rupa, media yang dipakai adalah rupa. Dengan demikian, apabila sebuah kesenian menggunakan lebih dari satu macam media, maka ia dapat disebut sebagai seni multimedia. Dalam penelitian ini, penulis berfokus hanya kepada seni musik.

Musik adalah pantulan dunia disekitar kita dan juga orang-orang yang membuatnya. Alam semesta tercipta dengan musik alam yang sangat indah. Gemuruh, ombak laut, deru angina di gunung, dan rintik hujan merupakan musik alam yang sangat indah dan sudah terbukti bagaimana pengaruh musik alam itu bagi kehidupan manusia. Perjalanan manusia tak pernah luput dari pengaruh musik. Begitu besarnya pengaruh paduan nada-nada tersebut membuat dunia ini seakan terasa begitu sepi tanpa ada suara musik yang terdengar. Musik dapat memberi perubahan dalam diri individu manusia, bahkan dapat membentuk karakter manusia, sejak manusia itu masih dalam rahim ibunya. Musik, dengan segala efeknya – baik efek positif maupun negatif, takkan pernah dapat kita. Menurut Jhon Tasker Howerd dalam Nainggolan (1994:10) “ Music, however, is a living language…” artinya musik adalah bahasa yang hidup.

1.7 Tangga nada (scale)

Lagu di atas salah satu contoh penggunaan tangga nada yangterdiri dari 5 nada (pentatonik) yaitu:


1.7.1 Tangga Nada Mayor (Major Scale)

Tangga Nada C mayor (Natural)

1.7.2Tangga Nada G mayor (1#)

Untuk membentuk tangga nada baru, tetrachord kedua menjadi tetrachord pertama kemudian dilanjutkan nada berikutnya dengan

iterval jarak seperti yang telah ditentukan.

G A B C menjadi tetrachord pertama kemudian dilanjutkan nada berikutnya yaitu D E F G. Nada E ke F berjarak ½ padahal jarak nada ke 6 ke 7 adalah 1 sehingga nada ke 7 harus dinaikkan ½ supaya jarak menjadi 1. Sedangkan jarak F ke G yang semula 1 setelah F menjadi Fis jaraknya menjadi ½., seperti notasi diatas. Karena dalam tangga nada G mayor terdapat 1 nada yang diberikan tanda kres yaitu nada F, maka tangga nada ini juga disebut tangga nada 1 kres.

1.7.3 Tangga Nada D mayor (2#)

Untuk membentuk tangga nada berikutnya, prinsipnya sama dengan pembuatan tangga nada diatas. Tetrachord ke dua dari tangga nada G mayor yaitu: D E Fis G menjadi tetrachord pertama.

1.7.4 Tangga Nada A mayor (3#)

1.7.5 Tangga Nada E mayor (4#)

1.7.6 Tangga Nada B mayor (5#)

1.7.7 Tangga Nada Fis mayor (6#)

1.7.8 Tangga Nada Cis mayor (7#)

1.7.9 Tangga nada F mayor (1 b)

1.7.10 Tangga nada Bes mayor (2 b)

1.7.11 Tangga nada Es mayor (3 b)

1.7.12 Tangga nada As mayor (4 b)

1.7.13 Tangga nada Des mayor (5 b)

1.7.14 Tangga nada Ges mayor (6 b)

1.7.15 Tangga nada Ces mayor (7 b)

Tangga nada di atas secara teoretis masih lebih banyak lagi macamnya, tetapi apabila kita cermati sebenarnya implementasinya dalam praktek bermain musik terdapat kesamaan. Misalnya: Tangga nada Cis enharmonik dengan tangga nada Des Tangga nada Fis enharmonik dengan tangga nada Ges Tangga nada Ces enharmonik dengan tangga nada B

1.7.16 Tangga nada F mayor (1 b)

1.6 Tanda Aksidental

Tanda aksidental adalah tanda yang dapat merubah ketinggian nada dalam satu birama. Tanda tersebut sudah tidak berlaku lagi pada birama berikutnya.

1.6.1 # (kres/sharp)

Untuk dapat memperjelas materi ini sebaiknya lagu tersebut dinyanyikan dan dianalisis terutama pada baris ke dua birama ke dua yang terdapat tanda kres (#). Nada tersebut semula bernada d setelah diberi tanda  #  menjadi dis atau d sharp. Akan sangat berbeda bunyinya apabila lagu tersebut tidak diberikan tanda #.

Dalam istilah internasinal, nada yang di-beri tanda ini namanya ditambah sharp, misalnya d menjadi d sharp.

1.6.2 (mol/flat)

Untuk lebih memahami tanda aksidental ini sebaiknya lagu bagian pertama lagu di atas dinyanyikan dengan intonasi yang tepat. Pada birama ke tiga, empat, dan enam terdapat tanda mol yang berfungsi untuk menurunkan setengah nada. Pada birama ke tiga dan ke em-pat, nada b setelah diberi tanda mol menjadi bes.

Sedangkan pada birama ke enam nada a berubah menjadi as. Setiap nada yang mendapat tanda mol namanya ditambah es, kecuali nada a ditambah s. Sama halnya dengan tanda kres, tanda mol juga hanya berlaku untuk satu birama. Dalam istilah standar internasional, nada yang diberi tanda mol/flat namanya ditambah flat, misalnya b menjadi b flat.

1.6.3 (pugar/natural)

Adalah tanda untuk mengembalikan nada yang semula mendapatkan tanda kres atau mol dalam satu birama.

Notasi 20, Petikan lagu Sepasang Mata Bola

Birama pertama lagu di atas terdapat dua tanda aksidental yaitu tanda kres dan pugar. Nada g pada ketukan ke tiga diberi tanda kres menjadi gis/g sharp dan pada ketukan ke empat diberikan tanda pugar kembali menjadi nada g. Untuk lebih memahami fungsi tanda aksidental dan penerapannya dalam suatu lagu sebaiknya dinyanyikan dan dirasakan perbedaan nadanya. Tanda pugar juga hanya berlaku dalam satu birama, sama dengan tanda aksidental yang lain.

Lagu-lagu lain yang terdapat tanda pugar misalnya:

1. Kebyar-kebyar (Gombloh)

2. Chindai (Cici Paramida)

1.5 Tanda Sukat (Time Signature)

1.5.1  Tanda Sukat 4/4

Dalam lagu-lagu (populer), tanda sukat yang sering kita jumpai adalah satu tanda sukat yakni 4/4. Irama Rock’n Roll, Bossanova, Cha  Cha, Rumba, Samba, Jive, dan sebagainya adalah  contoh irama yang ber-tanda sukat 4/4.  Marilah kita amati lagu dibawah ini dan kita pelajari makna dari suatu tanda sukat:

Notasi 8, Petikan lagu Kebyar-Kebyar

Lagu di atas merupakan contoh lagu yang bertanda sukat 4/4.  Untuk memahaminya  lagu tersebut   dinyanyikan, kemudian dianalisis mengapa lagunya bertanda birama 4/4.  Kita amati  notasi pada birama pertama.

Notasi 9, not seperempat

Dalam materi bentuk dan nilai not dijelaskan bahwa not seperti  notasi di atas merupakan not seperempat. Pada birama pertama  lagu Kebyar Kebyar terdapat empat not seperempat, apabila  dinotasikan adalah:    + + +  = 4/4. Lagu yang bertanda birama 4/4 apabila dijumlah dalam satu birama memiliki empat not seperempat. Hal itu bukan berarti dalam setiap  birama dalam satu lagu hanya terdapt not sepempat saja tetapi bisa terdiri dari not seperdelapan, seperenambelas, setengah, atau not penuh. Mari kita cermati lagi lagu diatas pada  birama ke dua yaitu:

Not pada birama tersebut terdiri dari dua macam jenis not yaitu not seperdelapan dan not setengah.  Secara matematis sama dengan:  ?+ ?+ ? + ? = ¼ + ¼

Dengan demikian pada birama ke dua apabila dianalisis juga  terdapat empat not seperempat.  Pada birama selan-jutnya meskipun bentuk dan nilai notnya berbeda dengan birama pertama dan ke dua tetapi apabila dianalisis pasti terdapat  empat not perempatan. Birama terakhir   terdapat not penuh/ utuh.

Dalam materi sebelumnya dijelaskan bahwa:

Contoh lagu yang bertanda sukat 4/4 misalnya:

1.  Januari (Glen F.)

2.  Jujur (Raja)

3.  Kenangan Terindah (Samson)

4.  Andai Ku tahu (Ungu)

5.  TTM (Ratu)

6.  Take Me Home Country Road (John Denver)

7.  Biru (Vina P.)

8.  Kebyar-kebyar (Gombloh)

9.  Kekasih Gelapku (Ungu)

10.  Andaikan Kau Datang (Koes Plus)

Dalam tanda sukat 4/4 terdapat istilah setengah birama (half bar), misalnya pada lagu dibawah ini:

Notasi 14, Lagu Masih (Ada Band)

Pada baris ke lima birama ke tiga terdapat tanda 2/4, berarti pada birama tersebut hanya terdapat 2 ketukan atau setengah birama. Cermati juga  pada baris ke enam birama ke lima terdapat tanda 2/4 seprti baris sebe-lumnya. Untuk memahami alangkah baiknya kalau kita menyanyikan lagu tersebut dan merasakan aksen pada birama/syair yang bertanda 2/4.

Lagu lain yang terdapat half bar misalnya:

1.  How Can I Tell Her (Lobo)

2.  The Greatest Love of All (Whiteney Hoston)

3.  Song Song Blue

4.  Kupu Kupu Malam (Titik Puspa)

1.5.2 Tanda Sukat 3/4

Tanda birama ini dalam musik populer dikenal dengan irama Waltz, tetapi lagu-lagu populer pada saat ini jarang kita jumpai tanda birama ini.

Notasi 15, Petikan lagu Belaian sayang

Lagu di atas termasuk contoh lagu era 60-an tetapi pernah direalease penyayi pop Ruth Sahanaya. Untuk memahami tanda birama ini alangkah baiknya kalau kita dapat menyanyikan dan menganalisis mengapa dibe-rikan tanda sukat ¾. Pada birama pertama terdiri dari not seperempat dan titik, dan not seperdelapan.

Notasi 16, Notasi dan tanda titik

Apabila dianalisis sebagai berikut :

+ ? + ? + ? = (1/4 + 1/8) + 1/8 + 1/8 + 1/8 = ¼ + ¼ + ¼

Jadi birama pertama terdapat tiga buah not seperempat yaitu:

+ + = ¼ + ¼ + ¼ = 3/4

Pada birama ke dua terdapat not seperempat dan not setengah

+ = + + = ¼ + ¼ + ¼ = ¾.

Notasi 17, ¾

 

Contoh lagu lain dalam tana sukat ini adalah:

1. Restumu Kunantikan (S. Tito dan Jul Ch.)

2. Melati dari Jayagiri (Iwan Abdurachman/Bimbo)

3. Bunga Mawar (Teti Kadi)

4. Delilah ( Tom Jones)

5. Sapu Tangan Dari Bandung Selatan (Lagu Perjuangan)

6. Mother How Are You Today

Pada dasarnya dua tanda sukat di atas adalah tanda sukat yang paling sering kita jumpai dalam lagu. Dalam teori musik kita kenal penggolongan tana sukat menjadi dua yaitu tanda sukat sederhana dan tanda sukat susun. Tanda sukat sederhana misalnya 2/4, ¾, 4/4. Sedangkan tanda sukat susun adalah tanda sukat yang merupakan su-sunan dari dua atau lebih tanda sukat, misalnya 6/8 taerdiri dari dua tanda sukat 3/8, tanda sukat 9/8 merupakan susunan dari tiga tanda sukat 3/8, dan lain-lain. Tanda sukat sebenarnya lebih menitikberatkan pada teknik penulisan. Misalnya lagu yang bertanda sukat ¾ sebenarnya bisa saja ditulis dengan tanda sukat 3/8, 4/4 ditulis dengan tanda sukat 4/8.

1.4 Bentuk tanda diam

20 November 2009 3 komentar

Notasi 7 , nilai not dan tanda istirahat

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.